Seminggu lalu tepatnya hari Senin di awal Januari, kami berempat tampil siaran bareng . Kalo biasanya saya siaran sendirian, tapi malam itu suasana menjadi berbeda. Bukan karena hebohnya ruang siaran,tapi kehadiran personil baru passion four menjadi biang keroknya. Sebelum saya ngobrol tentang topik siaran, saya bakal jelasin apa dan siapa passion four . Passion four merupakan salah satu acara di solopos fm, salah satu stasiun radio berita di Solo yang memiliki khalayak pendengar yang sudah matang.
Yang seru dari acara ini adalah hostnya yang terdiri dari kami para profesional yang berkecimpung di dunia komunikasi sebut saja marketing communication atau public relations perusahaan. Passion four dilaunching pada bulan oktober 2011, formasi awal terdiri dari saya Retno Wulandari yang disitu merepresentasikan karakter (inspiring), dyah listyarini ( hot), Nicky Olivia ( energic ) dan Ningga Mone (smart) . Setiap Senin malam kami bergantian siaran dalam tajuk ” An Evening with… ” kami bisa mengambil tema bebas sejauh itu tentang lifestyle atau komunitas. Rasanya ini menjadi pengalaman yang luar biasa buat kami berempat untuk semakin mengasah kemampuan bercuap cuap . Yang seru dan menarik, karena pihak radio memberikan keleluasan kepada kami selama satu jam itu untuk menentukan tema, memilih nara sumber serta memilih lagu yang kami sukai. Itung itung belajar jadi produser.
Kekompakan kami berempat tak hanya ada di ruang siaran, tapi berlanjut juga di darat. Terbukti sewaktu ningga mone atau biasa kami panggil iga, mengundurkan diri karena harus pindah kerja ke luar kota, rasa haru menyeruak di dada. Igga bahkan tak sanggup mengucapkan kata pamit ,dan saya juga harus bicara terbata bata saat melepasnya. Baru tiga bulan berjalan namun kedekatan ini sungguh luar biasanya. Senin lalu kami tampil siaran baru dengan tema resolusi 2012 , sekaligus memperkenalkan Ira Oktarini sebagi personal baru passion four dengan karakter fearless. Suasana siaran bertambah segar,lantaran kami mengibaratkan perjalanan hidup seperti makanan.
Buat Ira tahun 2011 bagaikan buffet semua masalah tumpah ruah dan bebas buat diambil solusinya. Pastinya hikmah dan kedewasaan menjadikan dia kuat . Sementara buat saya 2011 bagaikan donut bulat dan manis. Yah 2011 semakin membulatkan cita cita saya yang kian lama kian menguat dan meninggalkan banyak kenangan manis. yang lebih menarik saat dyah menyampaikan resolusinya untuk menikah di 2012 serta Nicky memiliki keinginan untuk melanjutkan sekolah lagi.semoga semua cita tergapai kawan…
Selamat jalan Igga sukses untuk girl band barumu di Surabaya… Welcome Ira Oktarini di rumah Passion Four 103 Soloposfm
Komunitas Public Relations Solo Raya (ProSolo) kembali membesut acara An Afternoon Sharing Moment. kegiatan diskusi rutin kali ini digelar di ballroom The Sunan Hotel Solo Rabu 14 Desember 2011 silam. Diskusi akhir tahun yang merupakan sharing praktisi PR ini sengaja mengangkat isu tentang kekuatan lokal dalam era sosial media.
Social local mobile, mantra baru komunikasi sebuah jampi-jampi komunikasi era kini diantarkan oleh pembicara Safiq Pontoh dari salingsilang.com. Seratusan audiens hadir sore itu berasal dari berbagai kalangan seperti, public relations, marketing, biro iklan, media, akademisi , blogger, dan mahasiswa.
Mas Safiq menyampaikan bahwa dalam era sosial media, peluang untuk tampil setara bagi kekuatan lokal terbuka lebar. Keunggulan keragaman di Indonesia, merupakan kekuatan bagi Indonesia. Dalam sosmed, “everbody could be a star”. Dalam konteks ini kiranya daerah atau seseorang agar bisa membaca peluang untuk memanfaatkan lokalitasnya dalam mengangkat keunggulan daerah.
Berbaga tips juga ditebar dalam sesi diskusi yang sangat interaktif dipandu oleh moderator Adia Prambors dan Anas sebagai host acara. Sosial media saat ini tak hanya bisa digunakan untuk membangun merk tapi juga untuk mempengaruhi gerakan sosial atau social movement. Bagi praktisi komunikasi, sosmed adalah ruang untuk menampilkan produk dan membangun keterikatan antara merk dan targetnya.
Salah satu keunggulan sosmed adalah me-reduce biaya promosi. Tapi jangan lupa para pengguna sosmed terutama praktisi komunikasi juga harus tahu karakteristik masing masing sosmed, karena layaknya media konvensional sosmed juga memiliki keunggulan berbeda beda sesuai dengan karakteristik yang dimilikinya. Selamat memanfaatkan jampi-jampi baru ..
Jokowi, Walikota Solo ini memang sosok yang fenomenal. Betapa tidak, di bawah kepemimpinannya, Kota Solo mengalami kemajuan yang signifikan. Tak hanya sukses mengelola pemasaran kota, walikota yang rendah hati ini pun piawai merancang program yang berwawasan lingkungan dan budaya.
Konsep hutan kota , pendestrian dan moda transportasi bus double decker sampai kereta kencana adalah beberapa contohnya. Bulan lalu tepatnya, 30 Maret 2011 ProSolo, komunitas Public Relations Solo Raya mengundang beliau di Paragon Hotel & Residences untuk berbagi cerita.
Mendengarkan paparan Jokowi seperti menyimak suatu dongeng yang menjadi kenyataan. Jokowi sore itu bercerita tentang Solo dengan taglinennya, “Solo Masa Kini adalah Solo Masa Lalu“. Konsep itu menyulap kawasan kumuh di barat Terminal Tirtonadi menjadi Taman Balekambang nan asri, kemudian ada Pasar Ngarsopura, Sriwedari dan modernitas moda transportasi yang hendak dirancang terintegrasi dengan kota tetangga, Jogjakarta. Pendek kata, Solo kini menjadi kota modern namun berkarakter dan berbudaya .
Kesuksesan ini itu sesungguhnya juga melahirkan kecemasan. Wong Solo mulai bertanya-tanya, apakah semua program yang sudah dirintis dan hasilnya juga sudah mulai terlihat itu bisa dilanjutkan oleh penerusnya? Mimpi-mimpin Jokowi itu adalah mimpinya warga kota. Mimpin yang menghendaki Solo sebagai kota modern dan berbudaya. Kota yang maju tanpa kehilangan karakter.
Saya masih melihat, Warga Kota Solo mengharapkan kempimpinan Jokowi tak pernah berakhir.
“Dari mana aku mendapat pelipur penguat hati? Ialah dengan sedikit-dikitnya memikirkan diriku sendiri, dan sebanyak-banyaknya dan terutama sekali kepada orang lain “. (RA Kartini) Read the rest of this entry »
Nidjiholic adalah sebutan bagi penggemar grup band Nidji. Saya merasa perlu memberikan acungan jempol buat mereka. Saat Nidji menggelar konser di The Sunan Hotel, 14 Februari, banyak Nidjiholics dari luar Solo, seperti dari Karawang, Bandung, Sidoarjo, Semarang dan Jogja. Mereka jauh-jauh datang ke Solo “hanya” untuk bertemu dengan sang idola.
Saya terkesan dengan mereka. Fans club yang cukup solid dan menginspirasi saya untuk mengaplikasikannya dalam pekerjaan keseharian, terutama berkaitan dengan mengelola hubungan pelanggan . Ibarat sebuah “ brand “ Nidji adalah sebuah merk yang dicintai oleh pasarnya. Didukung dengan sepenuh jiwa dan memiliki agen-agen yang siap mengabarkan keunggulannya serta membelanya pada saat ‘ jatuh”
Membangun brand agar dicintai membutuhkan ketulusan dalam melayani. Begitu pula yang saya lihat dari Nidji. Saat jumpa pers sore hari di Narendra Resto sebelum konser, saya saksikan sendiri bagaimana mereka memperlakukan fansnya dengan begitu tulus. Permintaan untuk meresmikan Nidjiholic Solo dipenuhi dengan semangat meski jadwalnya super sibuk.
Nidji memang layak sukses. Selain tentu saja karena kemampuan musikalitasnya, grup ini saya rasa cukup piawai untuk memanjakan fansnya. Nidji juga memiliki kecerdasan mengelola isu-isu di media . Pertanyaan kritis yang disodorkan oleh media pun dijawab dengan lugas. Sebagai artis, Nidji tak canggung dengan isu-isu di luar profesinya. Jurnalis yang memancing dengan pertanyaan seputar isu kekerasan berdalih agama, dijawab diplomatis.
Kata Giring Nidji, dirinya adalah seorang muslim yang taat dan fanatik. Karena saking fanatiknya, dia menolak kekerasan dengan dalih agama. Hidup damai dan penuh cinta menjadi pilihannya. Jawaban yang cerdas bukan?
Tak hanya itu, sebagai public figure, Giring Nidji juga tak segan untuk menjadi “fans” atau menjadi idola public figure yang lain. Bahkan tanpa ditanya sekalipun, Giring tanpa sungkan menyampaikan kekagumannya kepada Walikota Solo Jokowi. Dengan polos, Giring mengatakan suatu saat ingin bertemu muka langsung dengan pemimpin yang dinilainya memiliki integritas tinggi itu.
Di atas panggung, Nidji membuktikan totalitasnya dalam menyuguhkan sebuah pertunjukkan. Nidji sepertinya tidak ingin berjarak. Dia selalu mendekati kerumunan penonton, melebur dan menyatu sekaligus menghibur. Tak lupa pesan perdamaian dan cinta terus menerus mereka suarakan.
Malam kian larut dan Lagu Bengawan Solo yang dinyanyikan secara khusus oleh Giring pun menjadikan cinta kami kepada Nidji mengalir sampai jauh ..
Happy Valentine Day !
Apa upaya yang kita lakukan untuk merekatkan kebersamaan ? Menurut saya silaturahmi adalah pilihan yang menyenangkan. Silaturahmi membuat panjang umur. Karena itu lah, mengawali tahun 2011, event pertama ProSolo di tahun Kelinci Emas, tema gathering yang dipilih adalah “membangun spirit kebersamaan “.
Kebersamaan yang tidak hanya buat anggota ProSolo tetapi juga semua pihak yang telah memberikan dukungan perhatian terhadap keberadaan komunitas PR di Solo ini. Kebersamaan pula yang dirasakan pada hari Selasa 2 Februari 2011, ketika sekitar seratus tamu undangan yang terdiri dari mass media, narasumber Prosolo dan penggiat pariwisata, marketing dan praktisi public relations berkumpul di Kusuma Sahid Prince Hotel. Kami merayakan kebersamaan yang indah .
Event rutin ProSolo ini sekaligus menjadi wahana bagi kami untuk memberikan apresiasi kepada 11 narasumber ProSolo sepanjang tahun 2010 yang telah rela berbagi ilmu. Harapannya semangat berbagi ilmu ini menjadi semangat bersama bagi segenap yang hadir siang itu. Semangat belajar bersama , merekatkan keragaman menjadi sumber kekuatan bagi komunitas kami yang memiliki tagline Sharing, Learning and Smiling.
Terima kasih kepada narasumber yang pernah berbagi dengan kami dengan cuma-cuma pada setiap session kegiatan SharingPR. Atas pengetahuan dan pengalaman yang diberikan itu, tentu layak kami memberikan apresiasi dan mengucap terima kasih yang tak terhingga.
Dan siang yang ramah hari itu menjadi saksi betapa kami ingin menyebar virus PR di seantero Solo Raya. Mem-PR-kan Solo, tentu saja dengan cara kami. [***]
Best Western Premier hotel bintang empat yang mengusung icon batik, pada hari Rabu 22 Desember 2010 lalu menjadi lokasi diskusi komunitas ProSolo. Tema yang diperbincangkan adalah Langkah dan Positioning Kota Solo Pasca Merapi. Ajang sharing rutin bulanan bagi komunitas public relation (PR) itu, kali ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Irfan Sutikno dari Fresh Blood Communication Solo, Amir Tohari (Solopos) dan Drs Budi Sartono Msi yang mewakili Dinas Pariwisata Solo dan dimoderatori Benk Mintosih. Read the rest of this entry »
Sore itu sekitar 70 praktisi humas bersama dengan relasinya dari berbagai kalangan berkumpul di Hotel Lor In Solo. Bukan kumpul-kumpul biasa, tetapi dalam sebuah ajang diskusi reguler yang diprakarasi Prosolo atau Public Relation Solo Raya. Kami mengemas acara diskusi itu dengan format rileks yang dinamai An Afternoon Sharing Moment. Read the rest of this entry »
Era sosial media telah tiba. Suka tidak suka, mau tak mau, hal ini tentu mempengaruhi cara kerja praktisi public relations (PR). Banyaknya jejaring sosial itu membuat PR tak lagi hanya berkutat dengan urusan press release yang mengedepankan kaidah bahasa formal. PR mesti dituntut lebih luwes untuk bisa berkomunikasi dengan influencer atau khalayaknya di dunia maya.
PRO Solo, Kamis (29/07/2010) membahasnya dalam diskusi rutin yang dihadiri praktisi PR dari perhotelan, mall, telekomunikasi dan media massa. Praktisi PR bersama dengan praktisi periklanan, humas pemerintah serta akademisi pertukar gagasan dan pengalaman dengan topic Cyber PR PR (Public Relations di era Social media). Tiga pembicara Blontank Poer (Blogger Bengawan), Mulyanto Utama ( Redaktur Senior Solopos) dan Muhamad Yusuf (Indosat Solo) dihadirkan di Borobudur II Hotel Novotel Solo yang menjadi tempat penyelenggaraan diskusi dan dipandu moderator Adia Prabowo.
Di tengah kepungan ragam acara yang marak diselenggarakan di kota Solo pada bulan Juli , Solo Batik
Festival (SBF) kembali digulirkan. Unjuk karya designer kota Solo yang kedua ini nampak beda dengan penyelenggaraan tahun sebelumnya. Hal ini bisa dilihat dari partisipasi designer yang ikut dalam acara ini. Dalam gelaran kali ini terdapat beberapa designer tamu dari kota lain seperti Sthephanus Hamy (Jakarta), Elkana Gunawan (Semarang) dan Tomy Tri Wahyudi serta Afif Sakur dari Jogjakarta. Read the rest of this entry »