Panas dan tak berselera, itulah pendapat saya tentang Cirebon kota yang terletak di perbatasan Jawa Tengah .Namun demikian saya tak kehilangan hasrat untuk mengelilingi kota ini meski tampak kotor dan tak rapi. Perjalanan wisata saya awali dengan keterkejutan, karena ternyata cirebon memiliki tiga kraton. Awalnya saya cuma tahu dua kraton saja kraton kanoman dan kasepuhan tapi ternyata masih ada kraton kacirebonan yang merupakan pecahan dari kraton kanoman.
Kunjungan ke kraton kacirebonan, membuka kenangan saya pada tanaman tanaman yang tumbuh di halaman rumah eyang. Dahulu saya tak mengerti makna apa dibalik bunga kemuning, soka, melati dan kenanga yang menghiasi rumah eyang.Dan siang hari ini saya mendapatkan penjelasannya. Bunga kemuning agar kita selalu ingin merumpun kepada Sultan,bunga kenanga membuat kita selalu terkenang,bunga melati harus hati hati, bunga soka agar semua orang suka dan pohon asem agar kita senantiasa mesem, tutur Sriyono pemandu wisata kraton yang sejak 1970 mengabdi.jadi masing masing tanaman tersebut memiliki filosofi, sarat akan simbol dan makna.
Keraton Kacirebonan tak terlalu besar, berdiri tahun 1808. Sejak tahun 1997 pangeran Raja Abdul Gani Natadiningrat dinobatkan menjadi sultan.Kraton kacirebonan juga memiliki senjata golok cabang yang sangat terkenal .
Di kraton kasepuhan, keadaan sedikit berbeda, kraton kasepuhan tampak terawat dengan arsitektur yang sangat menarik. Terutama ornamen ornamen di dalam kraton seperti Piring keramik yang berasal dari dinasti Ming Cina tahun 1404. Di dalam ruangan Bale Paseban terdapat kelambu dengan 9 Warna. Jumlah pengunjung yang datang ke Keraton Kasepuhan juga lebih banyak , mungkin karena Keraton ini yang terbesar diantara tiga keraton yang ada. Bagi pengunjung yang ingin bertemu dengan raja, ada paket khusus yang ditawarkan. Harga tiket masuk ke Keraton cukup murah hanya Rp. 5000,- saja. Pemandu wisatanya sangat menyenangkan.
Wisata ke Cirebon tak lengkap bila tak mampir ke kampung Batik Trusmi, saya berbelanja di outlet Batik EB. Aneka ragam batik pesisiran tersedia termasuk motif mega mendung yang menjadi andalan.Tak hanya Batik, kita juga bisa menikmati kuliner khas Cirebon seperti nasi jamblang dan souvenir. Pelayanannya sangat ramah dan pemiliknya tampak sangat sadar marketing ‘ hal ini terlihat dari ketersediaan informasi berupa brosur yang lengkap, dan jangan khawatir karena pembayaran melalui kartu kredit pun diakomodir. Sayangnya setelah mengelilingi kawasan kampung batik trusmi saya melihat penataannya perkampungannya yang kurang arstistik.
Sekian dulu catatan saya tentang cirebon selebihnya biarkan gambar yang berbicara, karena besok saya harus bangun pagi untuk melanjutkan perjalanan ke pelabuhan . Kalo tak malas sih …, karena cuaca di sini sangat panas . .
Terharu, itulah rasa yang menyembul di dada tatkala, kami menata buku demi buku. Sabtu 12 Mei lalu menjadi sebuah momentum pribadi yang pasti tak kan terlupa. Bersama sahaba Dewi dan yusmei, hari itu kami berhasil merampungkan sebuah gagasan untuk membuat rumah baca di desa Tlogolele, kecamatan Selo, Boyolali. Proyek pribadi yang nyaris mustahil tanpa campur tangan Nya.
Berawal dari obrolan ringan saya bersama Yusmei tentang rendahnya minat baca generasi muda, kami mulai berpikir untuk merealisasikan impian untuk membuat Rumah Baca. Desa Tlogolele menjadi pilihan karena yusmei yang juga seorang jurnalis cukup memahami daerah yang terletak di lereng gunung Merapi tersebut. Singkat kata wilayah peliputan Yusmei akan memberi kemudahan dalam memotret kondisi dan mengakses daerah tersebut. Dan Yusmei menjadi pimpinan proyek impian ini .
Obrolan ringan dilanjutkan dengan pertemuan dirumah saya, mengumpulkan teman teman se visi seperti Arief, Dewi, dan mas Ludi, untuk urun rembug dan membuat sebuah konsep rumah baca Nama ‘Mata Dunia ‘ tercetus dari Dewi malam itu disela sela pertemuan.Sedari awal saya sudah memperkirakan bagaimana sulitnya kami nanti akan berkoordinasi mengingat tidak berasal dari kantor yang sama dan masing masing memiliki kesibukan yang tinggi . Lokasi pekerjaanpun terpencar. dewi di Jogja, Yusmei di Boyolali dan saya di Solo .Namun dalam hati saya memiliki keyakinan yang besar bahwa niat baik pasti akan dimudahkan dan dilancarkan melalui campur tangan Nya.
Pertemuan dilanjut dengan survey, bertiga Dewi ,Yusmei , saya ke Desa Tlogolele yang akhirnya mempertemukan kami dengan Pak Lurah setempat. Kamipun berharap semoga berjodoh lokasi untuk membangun rumah baca disini . Pak lurah yang masih tergolong muda usia menyambut niat baik kami , dan menyediakan sebuah ruangan di balai desa untuk diisi dengan rak dan buku buku yang dibutuhkan. Alhamdullilan , minggu lalu Rumah Baca Mata Dunia terealisasi sebanyak 600 buku dan majalah telah terdisplay meski masih sederhana. Tentu saja kami wajib mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan bagi impian kecil ini .
Insya Allah pendampingan akan kami lakukan agar gerakan minat membaca di daerah ini bisa meningkat dan rumah baca Mata dunia bisa memberikan inspirasi bagi terbukanya wawasan bagi masyarakat setempat. Pendampingan direncanakan dua minggu sekali dengan kunjungan ke lokasi, itung itung piknik sekaligus menikmati jadar bakar Selo yang yummi . Apabila teman teman ingin memberikan sumbangan donasi buku kami menyambutnya dengan tangan terbuka. Buku agama dan hidup di daerah bencana sangat menarik minat mereka. Monggo silahkan …
Begitu cerita saya tentang Rumah Baca Mata Dunia Kawan…

Usulan untuk mencoba sky bridge awalnya datang dari sahabat saya Anna Marita. Pada saat kedatangan saya di kuala lumpur dulu saya tak sempat mencobanya. Jembatan penghubung menara kembar Petronas ini memang layak untuk direkomendasikan bagi wisatawan yang mengunjungi malaysia. Petronas adalah menara tertinggi di dunia, sampai dengan 2004 setelah kemudian taipe menyelesaikan menara tertingginya. Pembangunan Menara kembar Petronas diselesaikan pada tahun 2008 dan didesain oleh arsitek Argentina Cesar Pelly . Menara yang Terdiri dari 88 lantai menjadi salah satu kebanggaan rakyat malaysia. Dibawah menara tersebut terdapat komplek perbelanjaan yang terkenal KlCC Suria .

Skybridge terletak di lantai 41 dan 42 , setelah membeli tiket seharga 15RM atau sekitar 150 ribu rupiah, kita tak langsung bisa mencobanya. Kami harus menunggu satu hari untuk menikmati pemandangan kuala lumpur dari atas .Sebelumnya tiket ini dijual bebas, tapi sejak tahun 2010 dikomersialkan dan dibatasi maksimal 1000 pengunjung setiap harinya.
Tak sabar untuk mencoba kami antri satu jam sebelum counter dibuka. Sembari menunggu bisa membeli souvenir yang didisplay di ruang tunggu yang mewah. Pukul 6 sore waktu setempat antrean dibuka dan kami diberi tanda pengenal berwarna biru. Setelah penjelasan diberikan oleh petugas ,kami memasuki sebuah lift kapsul yang kemudian berhenti di lantai 42 dan 41 . Lantai tersebut merupakan jembatan penghubung diantara menara kembar petronas. Waktu 20 menit diberikan untuk menikmati pemandangan dan mengambil foto.lucunya kami bahkan tak sempat mendengar suara petugas yang memanggil untuk naik ke lantai lebih atas, sehingga kami bertiga terpaksa diikutsertakan grup berikutnya. Hujan yang sedikit mengguyur tak mengurangi keindahan pemandangan sore itu
Selanjutnya lift berwujud kapsul naik ke lantai 83, untuk melakukan perpindahan lift. Dan berhenti di lantai 86 yang luar biasa indah. Disitu terdapat replika petronas serta foto foto Mahatir Muhamad sebagai mantan perdana menteri yang disegani dan menjadi sumber aspirasi serta inspirasi rakyat Malaysia. Keindahan Kuala Lumpur juga bisa dilihat melalui teropong yang disediakan . Satu lagi permainan seru yang membuat saya takjub , karena hanya dengan menunjukkan tiket pembelian di sebuah layar kita bisa menikmati wajah kita lengkap dengan permainan yang didisplay di layar. Bagaikan maen film ditelevisi . Lantai 86 adalah lantai terakhir yang boleh dikunjungi selanjutnya lift kapsul akan membawa kita turun,pengalaman satu jam yang sangat berkesan pastinya…
Perjalanan saya tahun ini diawali dari eksotika negeri jiran Malaysia . Negara tetangga ini memang menarik perhatian saya. Bukan karena klaimnya terhadap batik dan reog tapi lebih dari bagaimana mereka mempromosikan negaranya. Harus diakui bahwa potensi pariwisata kita lebih indah dan kaya. Namun terobosan promosi melalu tagline malaysia trully asia ‘ mampu meningkatkan kunjungan wisata secara signifikan.
Sore itu 24 februari saya bersama genk jalan jalan anna dan dewi berangkat dengan Air Asia Melalui bandara Adisumarmo Solo . Setiap hari ada direct flight Solo -kuala lumpur . Sesampainya di LCC saya sudah dikejutkan dengan perubahan di bandaranya yang tampak lebih ramai dengan berbagai gerai yang dibuka. 4 tahun lalu bandara tersebut masih tampak lengang. Sepanjang perjalanan saya paling terkesan dengan kota Malaka seperti dibawa ke masa lampau kota kecil ini memang merupakan kota warisan budaya . Banyak bangunan kuno yang masih tersisa dan dipertahankan . Saya berjanji pada diri saya bahwa kelak saya akan kembali ke kota ini secara khusus untuk bisa mengexplore Malaka , menikmati kulinernya serta menyaksikan atraksi pariwisata yang yang digelar hampir setiap hari. Konon Tiada hari tanpa karnaval disini .
Namun diantara 3 kota yang saya kunjungi, saya memilih Genting sebagai maskotnya. Bukan karena apa saya memang penasaran bisa melihat casino disini . Dan rasa penasaran ini berhasil saya tuntaskan berkat jasa adik ipar saya. Sumpah pengalaman yang paling deg degan bagi saya adalah menyaksikan perjudian di genting, langsung dari arenanya … Genting di Genting begitu kiranya rasa hati saya ..Nanti saya akan ceritakan dlm tulisan berikutnya …
Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata kata
“Di keluarga saya bobot, bibit dan bebet tidak berlaku” (Koko Srimulat)
Malam itu perasaan saya bungah bukan kepalang, Sebuah tema tentang grup komedian kondang Srimulat berhasil saya hantarkan ke pendengar radio. Ceritanya Senin malam tiga minggu lalu saya menjadi host tamu dari sebuah acara bertajuk An Evening with Retno Wulandari di 103 Soloposfm.
Narasumber saya malam itu adalah keluarga besar dari Dinasti Srimulat. Kenapa saya memilihnya? Srimulat adalah legenda dan kebetulan saya mengenal keluarga besar Srimulat sejak saya masih SMA. Bergaul dengan pelawak dan putra putri mereka, mengakrabi kehidupan sekaligus pahit getirnya. Pilihan topik tentang Srimulat merupakan bentuk rasa hormat dan kecintaan saya terhadap grup ini .
Tiga narasumber talkshow radio itu adalah Koko, Mia yang keduanya merupakan putra putri bu Jujuk serta satunya lagi mas Sony Setiawan penulis buku trilogi Srimulat. Suasana ger-geran langsung pecah di studio tatkala saya mengupas hal-hal pribadi tentang Srimulat. Mia bercerita semasa kecil sering menangis di sekolahan lantaran teman-teman sekelas meledeknya dengan cara memberi coretan kumis pada buku tulis yang kebanyakan bergambar ibunya dan almarhum pelawak Gepeng. Suka duka menjadi anak dagelan pun menjadi cerita guyonan yang menyenangkan.
Namun dari semua yang kami bahas malam itu, ada satu kalimat yang membuat saya tercengang sekaligus terkesan. Ketika saya bertanya tentang kebijakan keluarga tersebut memilih calon menantu, Koko bilang di keluarganya bobot, bibit dan bebet tidaklah berlaku. Sepanjang mereka saling mencinta, maka Bu Jujuk dan Pak Teguh akan merestuinya apapun latar belakang calon menantunya. Saya sungguh terkesan jawaban itu, meski saya tak yakin apakah saya mampu mengimplementasikannya dalam keluarga saya. Cinta memang selalu datang tanpa pertimbangan, cinta tak bisa memilih tapi apabila kita menikah tidakkah kita berhak tetapkan kriteria,??? Atau memang hidup harus berjalan apa adanya, tinggal kita menjalani dan menuruti semua panggilan hati. …
Sampai tulisan ini saya buat tak saya berhasil temukan jawabnya, pada siapa kita mesti mengabdi pada logika atau kata hati…? Malam semakin senyap, tanya yang tak terjawab, hidup yang tak terceritakan, bagai satire dunia srimulat.. Dalam gelak tawa,ada kepedihan yang dalam. Ketika lakon tak seindah panggung cerita dagelan..
Gedung 3 Fakultas Hukum UNS, menjadi saksi gelora saya siang itu. Ratusan kali mungkin sudah saya menuliskan bahwa bertemu anak muda selalu membuat harapan saya terbakar. Kampus adalah dunia bagi saya meletakkan harapan besar akan lahirnya pemimpin pemimpin masa depan. Disinilah awal dari pergulatan ide, pergerakan intelektual serta jaringan yang tak kenal batas. Mahasiswa sekarang ini berada di jaman yang sungguh sungguh gokil. Asik sekali melihat dinamikanya. Bukan bermaksud membandingkan tapi rasanya generasi saya layak cemburu.
Bayangkan ketika NKK/BKK diterapkan di kampus pada masa orde baru, apa sih yang bisa dilakukan oleh mahasiswa saat itu…Di saat itulah era pikiran dan pendapat hendak diseragamkan. Kemerdekaan berpikir menjadi barang mahal dan langka. Dan siang itu saya diundang untuk menjadi pembicara public speaking di mantan kampus saya tercinta. …
Berada di kampus bukan hanya mengoyak segala kenangan, tapi semacam ajang pelampiasan tepatnya. Saya menyukai dunia pemikiran, namun saya lebih cinta alam tindakan. Berbicara bersama dengan mahasiswa adalah menjadi sebuah alat untuk mencapai tujuan…
Sebelum giliran saya tampil, saya menyimak materi pembicara pertama yakni seorang anak muda yang hebat. Baru lulus kuliah FISIP UGM tetapi sudah ratusan kali bicara di depan publik. Namanya Agung Baskoro. Pemenang The Next Leader versi MetroTV. Saya terkesima dengan wawasannya. Sungguh potret anak muda yang hebat. Mampu memanfaatkan waktu dan jaringan sebesar-besarnya untuk membangun kemanfaatan diri dan lingkungan.
Namun di antara semua kehebatan yang dimiliki, saya tertarik dengam satu hal. Agung Baskoro memiliki aktivitas rutin yang dia namakan berburu tokoh. Konon dalam perburuan itu dia bisa mendapatkan pengetahuan dan energi positif dari sang tokoh. Anak muda yang mau terus belajar, menggali dan mendengar. Ciri khas seorang calon pemimpin di masa depan.
Itulah kenapa saya mencintai kampus..Saya yakin di kampus saya akan semakin banyak bertemu Agung Baskoro, Agung Baskoro yang lain. Tentu saja dalam versi yang berbeda…….
Terima kasih utk Rachel Georghea Sentani, yg telah mengundang saya hari ini, Rabu 9 November 2011
Mungkin inilah mediasi paling seru sepanjang saya menjadi dosen tamu khususnya di FISIP UNS. Saya masih harus melawan kantuk apalagi di tengah kondisi fisik yang tidak fit ketika tiba di kampus sekitar pukul 08.00 WIB. Panitia Mediasi FISIP angkatan 2011 meminta saya untuk berbagi pengalaman perihal manfaat sosial media di lingkup kehumasan.
Saya menyebut kegiatan yang diselenggarakan sebagai cara untuk menyambut mahasiswa baru ini seru lantaran interaksi dan suasananya sungguh menyenangkan. Cair, interaktif serta hangat. Nyaris tak ada jarak antar peserta dengan panitia maupun dengan saya yang notabene diberi sandangan atribut dosen. Read the rest of this entry »
Ngga ngerti jazz tapi nafsu nonton Java Jazz. Itulah saya. Jauh-jauh dari Solo, saya membelah ibukota untuk mendatangi keramaian yang sedang dirayakan seantero warga Jakarta. Motif nonton keramaian lebih besar daripada menikmati musik jazz yang jujur saya ngga terlalu paham. Orang Jawa bilang, “ndelok wong ndelok”.
Java Jazz salah satu festival jazz terbesar di dunia ini digelar selama 3 hari dan sukses menarik puluhan ribu pengunjung. Magnet promosi yang dasyat dan juga hasrat untuk melihat detil pertunjukkan membuat saya bersemangat datang.
Barengan partner in crime Adia Prabowo, saya sudah dibuat shock karena tempat saya menginap, Hotel Borobudur, menjadi tempat digelarnya press conference Java Jazz, bertepatan saya check in. Beberapa artis pendukung juga stay di Borobudur. Adia terlihat kegirangan di lobby berpapasan dengan Corinne Bailey. Saya tak mengerti kalo Hotel Borobudur tempat saya menginap merupakan official hotel Java Jazz 2011. Super bejo, begitulah critanya.
Tak ingin ketinggalan semua pertunjukan, kami berangkat ke Jakarta International Expo Kemayoran tempat perhelatan itu, bersama seorang kawan lebih awal. Java jazz tahun ini didukung beberapa sponsor yang memiliki brand besar seperti AXIS, BNI 46 dan sebagainya. Java Jazz juga memiliki media partner yang semua logonya memenuhi baliho di depan tempat acara. Hampir semua media tak mau ketinggalan berpartispasi dalam event akbar ini.
Masuk ke dalam ruangan saya melihat jadwal pertunjukan pada hari pertama yang menampilkan beberapa artis dunia seperti Santana, Corrine Bailey, serta artis dalam negeri Dira Sugandi, Glen Fredy, Dwiki Dharmawan, Marcel dan sebagainya. Saya agak kecewa ketika mengetahui Santana manggung dengan jam yang bersamaan dengan Dwiki Darmawan, di tempat yang berbeda. Padahal, saya menyukai keduanya.
Hall yang satu dengan yang lainnya, letaknya cukup berjauhan membuat kaki gempor. Lapar dan dahaga datang begitu cepat, merusak konsentrasi menonton pertunjukkan yang dimulai pada jam 18.00 sampai dengan jam 01.00 WIB. Saya bertahan hingga puncak acara dengan tampilnya Santana. Si gitaris gaek ini tampil mengesankan sekali. Dia seoalh membuat lupa dengan penampilan penyanyi-penyanyi sebelumnya.
Bagi saya, Santana belum terlalu tua untuk menghibur melalui lagu-lagunya. Como Va, Black Magic Woman, Maria–Maria dan lainnya. Jujur lagu-lagu itu masih asing di telinga saya, tetapi saya sangat menikmati. Rencana saya, nonton wong nonton dibuat hancur berantakan oleh Santana. Mata saya tak pernah berkedip memelototi panggung utama.
Santana turun panggung. Gairah untuk meneruskan menyaksikan pertunjukkan ini seperti turut dibawa pergi dia. Saya sudak tidak lagi memiliki menonton show selanjutnya. Saya memutuskan duduk lesehan bersama ribuan orang lainnya di hall sembari mengamat-amati sekeliling. Ini lah kesempatan nonton wong nonton, misi yang memang saya bawa sejak dari Solo.
Ternyata saya tidak sendirian di sini, orang yang tak paham jazz berada di belantara jazz. Mereka juga seperti saya, hanya ingin melihat keramaian dan menjadikannya sebagai gaya hidup. Menurut saya, bukan masalah dengan sikap seperti itu. Hanya saja, ada baiknya jika ingin menyaksikan Java Jazz lain kali, harus dengan persiapan yang memadai. Paling tidak, simak jadwal pertunjukkannya plus letak hall yang hendak dituju. Jangan lupa, makan secukupnya sebelum nonton. Hall memang menyediakan cafe, tetapi pengalaman saya, harus antri cukup lama membuat mood menyaksikan pertunjukkan bisa melayang lantaran emosi. Satu lagi, sekalipun menyukai seluruh artis yang tampil tapi jangan terlalu bernafsu untuk menonton semuanya. Lebih baik buat prioritas yang hendak disaksikan karena jika tidak, waktu akan habis di jalan dari satu hall ke hall lain yang jaraknya berjauhan.
Judul di atas adalah topik diskusi periklanan yang diselenggarakan di Sahid kusuma, Sabtu 7 Mei 2011. Ratusan mahasiswa periklanan dan praktisi periklanan di Solo membahas berbagai hal tentang ide kreatif dan juga persoalan di industri periklanan saat ini. Saya ketiban sampur didaulat untuk berbicara dari sudut pandang sebagai klien orang iklan.
Di awal diskusi, sebuah pernyataan menarik dikemukakan Mas Iwan dari agency iklan Srengenge Jogjakarta. Dia menyampaikan keprihatinan tentang keberadaan kue iklan yang semakin kecil di daerah. Hal itu berbanding lurus dengan fakta bahwa belanja iklan dari tahun ke tahun terus meningkat. Kue iklan ternyata hanya terkonsentrasi di Jakarta membuat agency di daerah sering gigit jari tak kebagian rezeki.
Selain itu juga perubahan cara-cara komunikasi pemasaran yang menuntut perubahan pendekatan para agency iklan. Di sisi lain agency daerah kadang kurang mampu memberikan solusi komprehensip terhadap klien karena minimnya kemampuan dalam membuat strategic planning.
Keresahan yang muncul di kalangan praktisi iklan adalah kelangkaan sumber daya manusia di dunia ini. Tak heran jika eksekusi iklan kerap kali kurang nendang alias tak maksimal. Kenapa demikian? Karena ide kreatif seringkali hanya diterjemahkan dalam bentuk desain. Masih sedikit yang menerjemahkan ide kreatif sebagai konsep komunikasi sebuah brand dalam jangka panjang. Biro iklan daerah sering hanya menjadi “tukang” karena tidak bisa mengeksplorasi ide-idenya lantaran rendahnnya pemahaman klien tentang fungsi agency iklan.
Namun di sisi lain, agency iklan juga prihatin ketika klien mereka ternyata juga kurang memberikan apresiasi terhadap ide kreatif. Hal itu terlihat dari penghargaan terhadap output kerja praktisi periklanan. User iklan hanya bersedia membayar biaya produksi sebuah produk iklan tanpa memperhitungkan “harga” sebuah ide kreatif desain iklan.
Idealnya memang klien dan biro iklan memiliki pengetahuan iklan yang baik. Hal itu dikarenakan sebenarnya tidak akan ada iklan yang bagus tanpa agency yang kreatif dan klien yang memiliki wawasan luas. Agency iklan dan klien yang kebanyakan digawangi oleh marketing communication ini mestinya mau belajar bareng. Dengan demikian Agency iklan akan mampu menjadi sparing partner bagi kliennya, begitu juga sebaliknya.
Diskusi pun semakin seru ketika saya menyampaikan pandangan tentang perubahan alokasi belanja iklan yang memberikan porsi lebih pada pengelolaan social media. Nasib biro iklan yang berbasis grafis desain ke depan menjadi sebuah karena sedang terjadi perubahan besar. Era digital telah tiba dan agency iklan harus siap menyambut era baru tersebut dengan penyesuaian dan pengetahuan. Kunci semua hal tersebut sebenarnya adalah pendidikan yang benar.